Meresume Sistematika Penulisan Skripsi Mahasiswa

      Resume Sistermatika Penulisan Skripsi Mahasiswa IAIN Pontianak Di               Perpustakaan IAIN Pontianak


Nama:Mutiatul Adawiyah
Nim:11901153
Fakultas:Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan


1.COVER/SAMPUL

  PELAKSANAAN TRADISI MAULIDAN          PADA MASYARAKAT MADURA DI                 GG.SELAT BLITAR 2 KELURAHAN                 SIANTAN HULU KECAMATAN            PONTIANAK UTARA KOTA PONTIANAK

                            SKRIPSI

                             OLEH:
                INDAH KUSUMAWATI
                    NIM:1111111464

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI(IAIN)PONTIANAK
2016 M/1443 H

2.ABSTRAK

INDAH KUSUMAWATI,2015 Pelaksanaan Tradisi Maulidan Pada Masyarakat Madura di GG Selat Blitar 2 Kelurahan Siantan Hulu Kecamatan Pontianak Utara Kota Pontianak Tahun 2015.
Latar Belakang Penelitian ini adalah adanya Sejumlah Hal-hal untuk dalam pelaksanaan acara Maulidan du GG.Selat Blitar 2 Siantan Hulu yang berbeda dari-dari tempat lainnya.seperti adanya buah nanas dan kelapa muda yang di atasnya terancap lidi kelapa bener uang kertas pecahan Rp.2000,adanya minuman khas yang wajib dihidangkan terbuat dari parutan nanas dicampur kacang tanah yang dihaluskan dan menggunakan gula merah.adanya pembacaan sholawat secara berjamaah serta tausiyah agama.

3.DAFTAR ISI
    ABSTRAK
    PERSETUJUAN PEMBIMBING
    KATA PENGANTAR
    DAFTAR ISI
    LEMBAR PENYESAHAN

 BAB 1 PENDAHULUAN
         A.Latar Belakang
         B.Fokus Penelitian
         C.Tujuan Penelitian
         D.Manfaat Penelitian

 BAB 2 MAULIDAN SEBAGAI SEBUAH                   TRADISI
           A.Definisi Maulidan
           B.Sejarah Maulid
           C.Hukum Pertanyaan Maulid
              1.Pertanyaan Maulid antara Pro                   dan Kontra
              2.Maulid sebagai sebuah tradisi
           D.Hal-hal yang ada dalam                                 Maulidan
               1.Doa dan Dzikir
               2.Ceramah Agama
               3.Berbagai Makanan
           E.Tradisi Maulid Masyarakat                          Madura
                1.Pengertian Tradisi
                2.Masyarakat Madura Dan Asal                      Usulnya Di Kalimantan Barat

BAB 3 METODE PENELITIAN
             A.Metode Bentuk Pendekatan                         Penelitian
             B.Lokasi Penelitian
             C.Sumber Data
             D.Teknik Pengumpulan Data

BAB 4 PAPARAN DATA DAN                                      PENELITIAN
            A.Gambaran Umum Lokasi                              Penelitian
            B.Paparan Data
            C.Pembahasan Penelitian
            D.Temuan Penelitian

BAB 5 PENUTUP
           A.Kesimpulan
           B.Saran

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

4.KUTIPAN

Tradisi maulid nabi di Madura merupakan sebuah tradisi yang sangat semarak sebagai bentuk kegembiraan dalam menyambut kelahiran Nabi Muhammad. Maulid adalah waktu kelahiran nabi (yaumu miladihi), pada tahun gajah, tepat pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Tradisi serupa adalah haul, sebuah tradisi memperingati hari kematian seseorang, sejak tahun pertama sampai seterusnya, dengan tujuan untuk mendoakan, mengenang dan atau mencontoh keteladanan yang ditinggalkannya.
Maulid hanya untuk nabi, sementara haul untuk siapa saja, selain nabi. Sebab dalam konsep maulid, nabi tidak pernah meninggal, tapi akan selalu lahir dalam dunia internal (diri individu) dan eksternal (lingkungan sosial) umat beliau yang selalu mencintainya. Dalam rangka menghadirkan kembali nabi di ruang kehidupan keseharian, maulid diadakan, dengan beragam teknik dan bentuk yang berbeda, tergantung kapasitas dan keinginan pelaksananya, entah perorangan atau rombongan (lembaga, kelompok dan organisasi).
Ada yang paling sederhana, duduk lesehan sambil shalawatan, ngobrol santai lalu pulang. Ada juga yang hanya bershalawat lalu rebutan buah-buahan, makan-makan, kemudian bubaran. Bahkan ada yang lengkap dengan sistematika acara tertentu, dengan menghadirkan penceramah khusus. Tentu ada juga yang bershalawat secara sembunyi-sembunyi, dengan keluarga sendiri, atau mungkin hanya berduaan dengan nabi, penuh kekhusyuan tanpa hura-hura.
Shalawat dan Simbolisasi Buah
Inti dari kegiatan maulid nabi adalah bershalawat. Shalawat yang biasa dibaca oleh masyarakat adalah shalawat maulid ad-Diba’iy, karya Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As-Syaibani, shalawat maulid al-Barzanji, karya Sayyid Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim al-Barzanji, dan untuk wilayah pantura Sumenep, banyak membaca shalawat An-Nur As-Sathi’, yang ditulis oleh KH. Thaifur Ali Wafa, Ambunten Sumenep.
Shalawat ditilik dari pengertian yang paling sederhana adalah rahmat (kasih sayang). Bershalawat maksudnya adalah memohon tambahan rahmat atas Nabi Muhammad beserta seluruh keluarga dan sahabatnya, dengan satu keyakinan dan tujuan, kita akan dapat cipratan dari tambahan rahmat yang Allah tuangkan kepada nabi terakhirNya tersebut. Ibarat telaga atau danau yang yang sudah penuh, tambahan rahmat yang berupa hujan dari langit akan membuat telaga itu meluas, mengalirkan airnya yang berlebih kepada tanah rendah di sekitarnya. Hal ini sesuai dengan misi utama kerasulan Nabi Muhammad sebagai rahmatan lil’alamin.
Lalu, apakah aliran shalawat dari kanjeng nabi akan sampai begitu saja kepada kita secara alamiah? Ataukah diperlukan upaya-upaya rasional yang dilakukan secara istiqomah? Apakah sanjungan kepada nabi hanya berhenti pada ungkapan pujian semata, tanpa harus dibarengi dengan meneladani sikap-sikap beliau? Bukankah shalawat yang berwujud rahmat itu harus direalisasikan secara nyata dan dirasakan oleh semuanya?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut menuntut adanya tafsir kreatif bahwa shalawat tidak hanya dibacakan, tapi juga dikerjakan. Para pembaca shalawat adalah orang-orang yang hanya menggunakan shalawat di bibir dan tenggorokan saja. Mereka tidak mengerti hakikat bershalawat dan merasa cukup bershalawat hanya dengan ucapan. Sementara para pelaku shalawat adalah orang-orang yang mengerjakan shalawat dalam berbagai akhlak kehidupan sehari-hari. Mereka bukan hanya pembaca, tetapi pekerja dari berbagai nilai dan bentuk shalawat sehingga mampu menjadi rahmatan lil’alamin, pelanjut misi kanjeng nabi dalam membangun kedamaian dunia dengan risalah Islam.
Karena shalawat harus dikerjakan, maka simbolisasi buah dalam tradisi maulid menemukan maknanya yang tepat. Buah adalah apa yang dihasilkan dan diharapkan dari sebatang pohon tertentu. Manusia yang bershalawat harus mampu mengahadirkan “buah sosial” yang berupa kebaikan-kebaikan untuk kebersamaan dan kemanusiaan, sesuai dengan struktur dan peran sosialnya masing-masing. Seorang pemimpin, buah sosialnya adalah menyejahterahkan rakyatnya. Seorang alim adalah mengamalkan dan mengajarkan ilmunya. Seorang kaya adalah kepeduliannya kepada orang miskin dengan mendermakan hartanya. Buah sosial seorang rakyat adalah memilih pemimpin yang jujur dengan tidak menjual suaranya. Maksud kata “adalah” di sini hanya sebatas satu contoh, tanpa menutup kemungkinan berbagai kebaikan yang lain.
Maulid dan Tanggung Jawab Profetik
Objek peringatan maulid nabi adalah Nabi Muhammad dan risalah yang dibawanya. Cinta kepada nabi yang mendasari pelaksanaan maulid adalah cinta padi diri nabi dan ajaran-ajarannya yang teraktualisasikan dalam setiap perilakunya. Nabi Muhammad dan ajarannya adalah satu paket, sama-sama menjadi anugerah tersebesar Allah kepada manusia dan seluruh alam semesta. Dengan dimikian, mencintai nabi tanpa mengamalkan risalah yang disampaikannya adalah sebuah kebohongan.

5.DAFTAR PUSTAKA
Al-Bukhari, Abu Abdullah Muhammad bin Ismail, Ensiklopedia Hadits; Shahih
al-Bukhari 1, Terj. Masyhar dan Muhammad Suhadi, Jakarta: Almahira,
Cet. I, 2011

Al-Din, Imam Taqi, Kifayah al-Akhyar, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1973
Al-Fauzan, Syaikh Shaleh bin Fauzan, Mulakhkhas Fiqhi, Jilid 1, Terj. Abu Umar
Basyier, Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir, 2011

Al-Ghazzi, Syekh Muhammad Ibn Qasim, Fath al-Qarib al-Mujib, Dar al-Ihya al-
Kitab, al-Arabiyah, Indonesia, tth
Al-Habsyi, Husein, Kamus Al-Kautsar Lengkap Arab-Indonesia, Bangil: Yayasan
Pesantren Islam, Cet. 6, 1992

Al-Ja’fi, Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail Ibnu Ibrahim bin Maghirah
bin Bardazibah al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Beirut-Lebanon: Darul
Kitab al-‘Ilmiyah, Juz I, 1992

Al-Malibary, Syekh Zainuddin Ibn Abd Aziz, Fath al-Mu’in, Kairo: Maktabah
Dar al-Turas, 1980

Al-Sajastani, Imam al-Hafith Abi Dawud Sulaiman bin al-Asy’at, Sunan Abi
Dawud, Beirut-Lebanon: Darul Kitab al-‘Ilmiyah, Juz I, 1996

Al-Syaukani, Imam Al-Alamah Muhammad bin Ali bin Muhammad, Nail Al-
Authar, Beirut-Lebanon: Darul Kitab Al-Arabi, Jilid I, 2000

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: PT
Renika Cipta, 2006

Ash-Shiddieqy, Hasbi, Pedoman Zakat, Jakarta: PT. Bulan Bintang, Cet. V, 1984
Asnaini, Zakat Produktif dalam Perspektif Hukum Islam, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2008

As-Sijistani, Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats al-Azdi, Ensiklopedia Hadits 5;
Sunan Abu Dawud, Terj. Muhammad Ghazali dkk, Jakarta: Almahira, Cet.
I, 2013


       GAMBAR 1
     GAMBAR 2
      GAMBAR 3

GAMBAR 4
GAMBAR 5


Inilah Hasil kerja yang saya kerjakan  Mohon Maaf jika ada kesalahan karena saya juga Masih proses tahap pembelajaran
Wallahul Muafiq Ilaakwamitthariq Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Strategi Pembelajaran

Media Pembelajaran Individual

KARAKTERISTIK SISWA